Pertemuan 15 : Unsur kebudayaan (Kehidupan Sosial, Politik, Ekonomi, dan Budaya) Kerajaan Demak dan Aceh Darussalam
Pertemuan 15 : Unsur kebudayaan (Kehidupan Sosial, Politik, Ekonomi, dan Budaya) Kerajaan Demak dan Aceh Darussalam
Nama:i ketut gede aditya sastrawan
NO : 14
KLS : xtb1
"Unsur kebudayaan (Kehidupan Sosial, Politik, Ekonomi, dan Budaya) Kerajaan Demak dan Aceh Darussalam"
kehidupan sosial budaya kerajaan demak
Dengan peradaban yang cukup maju, kehidupan sosial budaya Kerajaan Demak juga sangat teratur. Pemerintahan berjalan dan diatur dengan hukum Agama Islam. Namun meski menggunakan hukum agama, tradisi lama yang tidak bertentangan dengan syariat agama Islam tidak ditinggalkan begitu saja. Hasil kebudayaan dari Kerajaan Demak ini tentu saja sangat kental dengan nuansa keislaman. Salah satu peninggalan Kerajaan Demak yang masih ada sampai sekarang dan merupakan bukti tingginya budaya Kerajaan Demak. Masjid Agung Demak ini sangat kental dengan nuansa seni dan ukiran yang sangat indah. Selain Masjid Demak, ada beberapa peninggalan kerajaan Demak yang berupa seini dan budaya seperti perayaan Sekaten yang merupakan akulturasi budaya Islam dengan seni budaya dan tradisi daerah.Nah teman-teman, itulah sedikit informasi mengenai keheidupan politik Kerajaan Demak yang bisa kami sampaikan kepada Anda. Semoga sedikit informasi mengenai kehidupan politik Kerajaan Demak di atas bisa menambah wawasan kita semua mengenai sejarah kerajaan demak. Selain merupakan kerajaan islam pertama di jawa, Kerajaan Demak juga merupakan kerajaan besar yang meninggalkan beberapa peninggalan bersejarah. Peninggalan Kerajaan Demak ini masih bisa disaksikan sampai saat ini. Bukan saja peninggalan Kerajaan Demak yang berupa bangunan, namun juga ada juga peninggalan kerajaan Demak yang berupa kesenian dan kebudayaan.
politik kerajaan demak
Kehidupan politik Kerajaan Demak ini tentu berawal dari raja pertama yaitu Raden Patah yang bermula pada tahun 1475-1518. Kehidupan politik Kerajaan Demak pada masa awal pendiriannya, sangat berkaitan dengan beberapa wilayah di Jawa Timur. Daerah-daerah seperti Tuban dan Gresik memiliki peran sangat signifikan dalam membantu Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak. Menurut Babat Tanah Jawa, Raden Patah pendiri Kerajaan Demak ini masih keturunan dari raja Brawijaya ke V atau raja Majapahit terakhir. dengan putri Chempa. Raden Patah ini pada awalnya adalah seorang adipati yang diangkat oleh Majapahit di daerah Bintoro Demak dengan gelar Sultan Alam Akhbar al Fattah.Pada masa awal berdirinya kerajaan demak, untuk semakin meningkatkan pengaruh di dalam perdagangan nasional dan internasional, maka pada tahun 1513, Demak melakukan penyerangan ke Malaka. Serangan ini dipimpin oleh Adipati Unus atau sering juga disebut dengan Pangeran Sabrang Lor. Namun sanyang, serangan tersebut mengalami kegagalan sehingga rencana semula menjadi tidak berhasil. Dalam kehidupan Politik Kerajaan Demak, Walisongo memiliki peran yang sangat penting di lingkungan sebagai pendamping dan penasihat Istana. Peran paling menonjol adalah dari Sunan Kalijogo yang sedikit banyak bisa membawa Kerajaan Demak menjadi sebuah kerajaan yang bernafaskan teokrasi dan didasarkan pada hukum agama Islam.Sepeninggal raja pertama Raden Patah, maka raja kemudian dilanjutkan puteranya yaitu Pangeran Sabrang Lor atau Adipati Unus. Namun Adipati Unus ini tidak lama menjabat sebagai raja, hanya sekitar tiga tahun. Adipati Unus ini tidak memiliki penerus sehingga ketika ia meninggal, tahta kerajaan Demak kemudian diperebutkan adiknya yang bernama Sekar Seda Lepen dan Raden Trenggono. Sekar Seda Lepen pun dibunuh oleh kemenakannya sendiri Raden Trenggono dalam perebutan tahta Demak, sehingga kemudian tahta kerajaan Demak jatuh di tangan SUltan Trenggono.Nah, dimasa kepemimpinan Sultan Trenggono inilah ia berhasil membawa Demak ke masa keemasannya.masa kejayaan kerajaan demak ini benar-benar luar bisa di bawah pemerintahan Sultan Trenggono. Kekuasaan Demak sangat luas, mencapai daerah Jawa Barat yaitu Banten, Jayakarta, dan juga Cirebon. Bukan saja di daerah Jawa Barat, kekuasaan Demak juga mencapai daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
ekonomi kerajaan demak
Dengan semakin stabilnya kehidupan politik Kerajaan Demak, maka keadaan ini sangat berpengaruh pada kehidupan ekonomi Kerajaan Demak. Kerajaan Demak sendiri merupakan Kerajaan dengan kehidupan ekonomi yang berbasis pada perdagangan maritim dan agraria. Kehidupan ekonomi Kerajaan Demak juga memiliki ambisi besar untuk menjadi negara maritim yang besar dengan berusaha merebut Malaka dari Portugis. Meski tidak berhasil merebut Malaka, namun perdagangan Kerajaan Demak dengan pelabuhan-pelabuhan lain di nusantara cukup berhasil dan sangat rami. Demak seperti menjadi sebuah pelabuhan transit atau penghubung daerah penghasil rempah-rempah dan memiliki sumber pertanian yang sangat besar.Dengan daerah sumber pertanian yang luas, Kerajaan Demak memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi global pada masa itu. Demak berhasil menjadi Kerajaan penghasil bahan makanan, seperti beras dengan dipadukan dengan perdagangan yang cukup berkembang. Kehidupan ekonomi Kerajaan Demak sangat maju terbukti dengan berhasilnya Demak mengekspor beberapa bahan makanan seperti beras dan madu dan bahkan juga lilin. Barang-barang tersebut berhasil diekspor ke Malaka melalui Pelabuhan Jepara. Dengan keadaan seperti ini, kehidupan ekonomi Kerajaan Demak bisa dikatakan sangat berhasil dan masyarakatnya juga sangat sejahtera
kehidupan sosial budaya kerajaan aceh darusalam
Letak Aceh yang strategis menyebabkan perdagangannya maju pesat. Dengan demikian, kebudayaan masyarakatnya juga makin bertambah maju karena sering berhubungan dengan bangsa lain. Contoh dari hal tersebut adalah tersusunnya hukum adat yang dilandasi ajaran Islam yang disebut Hukum Adat Makuta Alam.politik kerajaan aceh darusalam
Kerajaan Aceh didirikan Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1530 setelah melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pidie. Tahun 1564 Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Alaudin al-Kahar (1537-1568). Sultan Alaudin al-Kahar menyerang kerajaan Johor dan berhasil menangkap Sultan Johor, namun kerajaan Johor tetap berdiri dan menentang Aceh. Pada masa kerajaan Aceh dipimpin oleh Alaudin Riayat Syah datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk meminta ijin berdagang di Aceh.
Penggantinya adalah Sultan Ali Riayat dengan panggilan Sultan Muda, ia berkuasa dari tahun 1604-1607. Pada masa inilah, Portugis melakukan penyerangan karena ingin melakukan monopoli perdagangan di Aceh, tapi usaha ini tidak berhasil.
Setelah Sultan Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Muda dari tahun 1607-1636, kerajaan Aceh mengalami kejayaan dalam perdagangan. Banyak terjadi penaklukan di wilayah yang berdekatan dengan Aceh seperti Deli (1612), Bintan (1614), Kampar, Pariaman, Minangkabau, Perak, Pahang dan Kedah (1615-1619).
Gejala kemunduran Kerajaan Aceh muncul saat Sultan Iskandar Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Thani (Sultan Iskandar Sani) yang memerintah tahun 1637-1642. Iskandar Sani adalah menantu Iskandar Muda. Tak seperti mertuanya, ia lebih mementingkan pembangunan dalam negeri daripada ekspansi luar negeri. Dalam masa pemerintahannnya yang singkat, empat tahun, Aceh berada dalam keadaan damai dan sejahtera, hukum syariat Islam ditegakkan, dan hubungan dengan kerajaan-kerajaan bawahan dilakukan tanpa tekanan politik ataupun militer.
Pada masa Iskandar Sani ini, ilmu pengetahuan tentang Islam juga berkembang pesat. Kemajuan ini didukung oleh kehadiran Nuruddin ar-Raniri, seorang pemimpin tarekat dari Gujarat, India. Nuruddin menjalin hubungan yang erat dengan Sultan Iskandar Sani. Maka dari itu, ia kemudian diangkat menjadi mufti (penasehat) Sultan. Pada masa ini terjadi pertikaian antara golongan bangsawan (Teuku) dengan golongan agama (Teungku).
Seusai Iskandar Sani, yang memerintah Aceh berikutnya adalah empat orang sultanah (sultan perempuan) berturut-turut. Sultanah yang pertama adalah Safiatuddin Tajul Alam (1641- 1675), janda Iskandar Sani. Kemudian berturut-turut adalah Sri Ratu Naqiyatuddin Nurul Alam, Inayat Syah, dan Kamalat Syah. Pada masa Sultanah Kamalat Syah ini turun fatwa dari Mekah yang melarang Aceh dipimpin oleh kaum wanita. Pada 1699 pemerintahan Aceh pun dipegang oleh kaum pria kembali.
Pada tahun 1816, sultan Aceh yang bernama Saiful Alam bertikai dengan Jawharul Alam Aminuddin. Kesempatan ini dipergunakan oleh Gubernur Jenderal asal Inggris, Thomas Stanford Raffles yang ingin menguasai Aceh yang belum pernah ditundukkan oleh Belanda. Ketika itu pemerintahan Hindia Belanda yang menguasai Indonesia tengah digantikan oleh pemerintahan Inggris. Pada tanggal 22 April 1818, Raffles yang ketika itu berkedudukan di Bengkulu, mengadakan perjanjian dagang dengan Aminuddin. Berkat bantuan pasukan Inggris akhirnya Aminuddin menjadi sultan Aceh pada tahun 1816, menggantikan Sultan Saiful Alam.ekonomi kerajaan aceh darusalam
Kehidupan ekonomi masyarakat Aceh adalah dalam bidang pelayaran dan perdagangan. Pada masa kejayaannya, perekonomian berkembang pesat. Penguasaan Aceh atas daerah-daerah pantai barat dan timur Sumatra banyak menghasilkan lada. Sementara itu, Semenanjung Malaka banyak menghasilkan lada dan timah. Hasil bumi dan alam menjadi bahan ekspor yang penting bagi Aceh, sehingga perekonomian Aceh maju dengan pesat.
Bidang perdagangan yang maju menjadikan Aceh makin makmur. Setelah Sultan Ibrahim dapat menaklukkan Pedir yang kaya akan lada putih, Aceh makin bertambah makmur. Dengan kekayaan melimpah, Aceh mampu membangun angkatan bersenjata yang kuat. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kejayaan. Dari daerah yang ditaklukkan didatangkan lada dan emas sehingga Aceh merupakan sumber komoditas lada dan emas.




Komentar
Posting Komentar